Sabtu, 29 November 2008

Faktor Lingkungan Yang Mempengaruhi Benih

PENDAHULUAN Setiap bunga mempunyai potensi untuk berkembang menjadi buah dan benih tetapi pembungaan yang terjadi kadang menghasilkan produksi bebih yang rendah. Kenyataannya hanya sebagian bunga yang dapat menjadi buah dan benih yang baik walaupun pada musim benih yang baik. Hal ini jelas tampak pada jenis-jenis angiospermae yang memiliki bunga kecil dan buah besar. Beberapa faktor sering dijumpai dapat menyebabkan kegagalan penyerbukan dan pembuahan serta kerusakan produksi awal (Utomo, 2006). Biji dapat diartikan sebagai ovule atau bakal tanaman yang masak yang mengandung suatu tanaman mini atau embrio yang terbentuk dari bersatunya sel-sel generatif yaitu gamet jantan dan betina di dalam kandung embrio serta zat-zat makanan yang mengelilingi embrio. Sedangkan benih merupakan fase generatif dari siklus kehidupan tumbuhan yang dipakai untuk memperbanyak tanaman itu sendiri secara generatif. Dalam pengertian ilmu botani atau secara embriologis yang dimaksud dengan benih adalah biji yang berasal dari ovule. Ovule dalam pertumbuhannya setelah masak lalu menjadi biji sedangkan integumentnya menjadi kulit biji dan ovary menjadi buah. Jadi dapat dikatakan bahwa istilah “benih” mempunyai pengertian yang lebih bersifat agronomis sedangkan “biji” lebih bersifat biologis. Benih bermutu tinggi ditentukan oleh dua faktor yaitu faktor genetik dan faktor fisik. Faktor genetik yaitu varietas-varietas yang mempunyai genotipe baik seperti produksi tinggi, tahan terhadap hama penyakit, responsive terhadap kondisi pertumbuhan yang lebih baik. Sedangkan faktor fisik ialah benih bermutu tinggi, yang meliputi kemurnian, persentase perkecambahan, bebas dari kotoran dan benih rerumputan serta bebas dari serangga, kadar air biji rendah yaitu 12-14 %, misalnya benih serealia dan kedelai (Kamil, 1982). Mengingat pentingnya benih dalam budidaya tanaman maka diperlukan pengelolaan benih yang baik dengan faktor-faktor lingkungan yang mendukung agar benih dapat tumbuh menjadi tanaman yang berkualitas. Faktor- Faktor Lingkungan Yang Mempengaruhi Benih Mutu benih yang baik merupakan dasar bagi produktivitas pertanian lebih baik. Kondisi sebelum, selama dan sesudah panen menentukan mutu benih. Walaupun mutu benih yang dihasilkan baik, penanganan yang kurang dapat meyebabkan mutu menurun (Hasanah, 2002). Penanganan benih perlu dilakukan secara khusus dan serius. Kelalaian atau keterlambatan dalam penanganan benih akan menyebabkan daya kecambah menurun atau bahkan benih mati. Penanganan benih mencakup kegiatan pemanenan, pengeringan, pemilahan, pelakuan benih, pengemasan penyimpanan, dan pengujian. Penanganan benih perlu memperhatikan kelompok benih seperti benih ortodoks atau rekalsitran (benih yang tidak tahan desikasi) atau intermediate (semirekalsitran). Melalui cara panen dan penanganan benih yang optimal, mutu fisiologis benih dapat dipertahankan lebih lama (Sukarman dan Maharani Hasanah, 2003). Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi benih diantaranya yaitu : 1. Kadar air Pengeringan dimaksudkan untuk mengurangi kadar air benih sehinga benih aman diproses lebih lanjut, terhindar dari serangan hama dan penyakit serta tidak berkecambah sebelum waktunya. Dalam pengeringan benih perlu diketahui sifat benih apakah ortodoks atau rekalsitran. Pada benih ortodoks kadar air saat pembentukan benih seitar 35-80 % dan pada saat tersebut benih belum cukupmasak dipanen. Pada kadar air 18-40 % benih telah mencapai masak fisiologis, laju respirasi benih masih tinggi dan benih peka terhadap detiorasi, cendawan, hama, dan kerusakan mekanis. Padakadar air 13-18 % laju respirasi benih masih tinggi, peka terhadapcendawa dan hama gudang akan tetapi tahan terhadap kerusakan mekanis. Pada kadar 10-13 % benih hama gudang masih menjadi masalah dan peka terhadap kerusakan mekanis. Pada kadar 8-10 % aktivitas hama gudang terhambat akan tetapi peka terhadap kerusakan mekanis. Kadar air 4-8 % merupakan kadar yag aman untuk penyimpanan kemasan kedap udara. Kadar air 0-4 % merupakan kadar yang terlalu ekstrim dan untuk beberapa biji dapat menyebabkan biji keras.penyimpanan pada kadar 33-6-% dapat menyebabkan benih berkecambah. Kadar air sangat menpengaruhi aktivitas cendawan dan hama gudang. Hama gudang biasanya aktif pada kadar 12-14 % dan menjadi kurang aktif pada kadar di bawah 8 % atau di atas 14 %. Sedangkan cendawan gudang aktif pada kadar 13-19 %. Cendawan tersebut misalnya Aspergillus dan Penicillium. 2. Suhu Secara umum untuk mempertahankan mutu fisiologis benih dapat disimpan pada suhu ruangan 20–25 C. Menyimpan bahan tanaman hendaknya memiliki sirkulasi udara yang baik, kelembaban relatif udara rendah (70−80%), cukup cahaya, dan atap tidak bocor. Tumpukan benih dapat diberi abu dapur untuk menghindari tumbuhnya jamur atau kapang (Hasanah et al., 2004). Toleransi terhadap suhu sangat erat kaitannya dengan kadar air. Benih yang berkadar air tinggi sangat sensitif terhadap suhu tinggi atau rendah bila dibandingkan dengan benih kering. Benih rekalsitran yang tidak menghendaki pengeringan sangat sensitif terhadap suhu ekstrim. Kebanyakan benih ortodoks lebih toleran terhadap suhu di lapangan. Tetapi untuk benih yang sensitif terhadap suhu rendah yang dialami ketika atau setelah melewati waktu satu malam di daerah tinggi akan berakibat fatal. Suhu tinggi dapat berakibat fatal apabila benih diletakkan di bawah sinar matahari langsung. Pada suhu antara 30-37 C perkecambahan benih di tempat terbuka dapat meningkat, indeks kecepatan berkecambah serta bobot kering akar dan bibit yang merupakan ciri vigor bibit yang lebih tinggi. Berdasarkan beberapa hasil penelitian diperoleh bahwa perkecambahan benih kurang baik pada suhu rata-rata siang dan malam 25 C tetapi tumbuh baik pada suhu 30 C asalkan suhu malam turun10 C. 3. Kelembaban udara Jumlah maksimum air yang dapat ditahan udara tergantung suhu, yaitu semakin tinggi suhu maka semakin tinggi kadar air. Jika udara mengandung uap air pada suhu tertentu maka dikatakan menjadi jenuh. Biasanya udara dalam kondisi yang tidak jenuh tetapi mengandung kadar air yang lebih sedikit daripada yang memungkinkan. 4. Cahaya Dalam penyimpanan cahaya diperlukan dalam jumlah yang cukup. Sedangkan dalam perkeambahan cahaya berperan sebagai faktor pengontrol perkecambahan. Secara alami suatu biji yang sudah masak makan terlepas dari pohonya dan jatuh ke tanah dan berkecambah dalam kondisi yang berbeda-beda. Kebanyakan biji-biji atau benih akan berkecambah dengan cahaya maupun tanpa cahaya. Pemberian cahaya pada benih dengan cahaya merah akan merubah Fm dalam biji menjadi F im dan benih akan berkecambah dengan cepat. Berbeda dengan pengaruh intensitas radiasi yang terkait fotosintesis yaitu ketika klofofil memegang peranan penting karena di dalam kualitas radiasi matahari fitokrom merupakan senyawa yang menentukan sifat morfogenetik tanaman. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui alasan mengapa biji gulma tidak dapat berkecambah jika kanopi tanaman menutupi sempurna. 5. Kadar oksigen dan karbondioksida Selama masa penyimpanan diperlukan ruang yang memiliki sirkulasi udara baik sehingga oksigen akan selalu tersedia agar daya kecambah benih dapat dipertahankan. Perkecambahan benih merupakan proses yang berkaitan dengan sel hidup yang memerlukan energi. Energi yang diperlukan dalam suatu proses sel hidup diperoleh dari proses oksidasi baik ada oksigen ataupun tidak. Umumnya biji akan berkecambah dalam udara yang mengandung 20 % oksigen dan 0,03 % karbondioksida. Tetapi pada biji tertentu, misalnya serealia, kadar oksigen dapat ditingkatkan di atas 20 %. Akan tetapi kenyataannya di lapangan, oksigen bukan merupakan faktor pembatas perkecambahan. Oksigen menjadi pembatas dikarenakan tingginya kadar air tanah tempat biji ditanam. Pada kondisi seperti ini bebih tidak akan berkecambah karena kekurangan oksigen. Penggunaan benih dengan viabilitas yang sudah menurun akan meningkatkan biaya penyulaman, harga benih, kemunduran waktu tanam sehingga produksi tidak akan optimal dan mutu rendah. Ketidaksesuaian lokasi produkasi, penyiapan tanah, waktu tanam, aplikasi pupuk pengendalian hama dan gulma, waktu dan pra panen, prosesing, pegemasan, serta penyimpanan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap produksi dan mutu benih yang rendah (Hasanah dan Devi Rusmin, 2002). Usaha untuk meningkatkan mutu benih yang sudah mundur dapat dilakukan dengan cara invigorasi (meningkatkan vigor benih). Cara ini telah banyak dilakukan pada tanaman hortikultura maupun tanaman pangan. Pelakuan presoaking atau conditioning secara nyata dapat meningkatkan viabilitas dan vigor benih. KESIMPULAN Mempertahankan kualitas benih melalui tahap-tahap mulai pemanenan hingga penyimpanan benih yang akan dikecambahkan memerlukan ketrampilan, pengetahuan, dan dedikasi yang tinggi. Pengusaha benih sebagai titik awal mempunyai kepedulian yang tinggi terhada mutu benih. Pengusahaan benih secara besar-besran memerlukan tenaga yang ahli untuk penegenalian mutu dari proses produksi hingga distribusi. Begitu pula ditingkat petani. Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi kondisi benih sejak biji masih terdapat pada tanaman hingga digunakan sebagai benih sangat penting untuk diketahui agar daya kecambah benih tidak menurun dan dapat tumbuh menjadi tanaman yang sehat dan dapat berproduksi optimal. DAFTAR PUSTAKA Hasanah, M. 2002. Peran Mutu Fisiologik Benih dan Pengembangan Industri Benih Tanaman Industri. J. Litbang Petanian 21(3) : 84-91. Hasanah, M., Sukarman dan D. Rusmin. 2004. Teknologi Produksi Jahe. Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat 16(1) : 9-6. Hasanah, M. dan D. Rusmin. 2006. Teknologi Pengelolaan Beberapa Benih Tanaman Obat Di Indonesia. J. Litbang Pertanian 25 (2) : 68-73. Kamil, J. 1982. Teknologi Benih 1. Penerbit Angkasa. Bandung. Sukarman dan M. Hasanah. 2003. Perbaikan Mutu Benih Aneka Tanaman Perkebunan Melalui Cara Panen dan Penanganan Benih. J. Litbang Pertanian 22 (1) : 16-23. Utomo, B. 2008. Ekologi Benih. www.usu.resipitory.ac.id. Diakses tanggal 8 Maret 2008.

Tidak ada komentar: